Langsung ke konten utama
Sekolah Itu Adalah Aku


Buku Antologi pertamaku. Terbit bulan Juli 2011
Tulisanku ada di urutan no 2, berjudul "Sekolah Itu Adalah Aku"

Harga: Rp 39.000
Penulis: Pipiet Senja dkk
Ukuran: 14 x 20 cm
Tebal: x + 246 hlm
Penerbit: Qultum Media
ISBN: 979-017-170-6
Harga: Rp39.000,-

Ananda tersayang,
Janganlah pernah engkau lukai ibumu. Jika engkau tahu sedikit saja bentuk kasih sayang bundamu, sejatinya itu belumlah cukup menggambarkan seluruh perjuangannya, semesta cintanya, dan, segala pengorbanannya untukmu. Sungguh, semua itu tidaklah cukup melukiskan kasih mereka.

Ibunda tercinta,
Tak ada kata yang sepadan untuk menyampaikan betapa kami berterima kasih untukmu. Tak mampu kami melukiskah betapa engkau amat berarti bagi kami. Tak sanggup kami menghadiahimu dengan persembahan yang setara pengorbananmu. Maafkan kami, Bunda. Kami benar-benar berterima kasih atas segala yang telah engkau curahkan untuk kami.

Duhai Ibunda dan Ananda yang kami cintai,
Kami persembahkan tulisan ini untuk kalian. Ingatlah selalu bahwa kita terhubung satu dan lainnya karena cinta. Maka, jangan pernah ada luka. Pupuklah cinta kita hingga semerbak aromanya mewarnai dunia.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tiga Langkah Pertamaku

(Juara 2 lomba menulis " Capture Your Gain Moment " yang di selenggarakan oleh Majalah Parents Guide, bulan Desember 2010) Menjelang usia sembilan bulan anakku, Farraas. Aku menjadi full time mom.  Jika dulu pengasuhnya sangat hati-hati menjaga karena tentu saja takut aku marahi kalau terjadi apa-apa. Aku cenderung membiarkan dan tidak menahannya menjelajah seisi rumah. Aku hanya mengamati benda-benda disekitarnya kalau-kalau bisa membahayakannya. Selebihnya,kubiarkan ia menantang dirinya sendiri, merangkak, memegang ini itu, menjangkau benda yang lebih tinggi, lalu mulai berdiri. Awalnya aku terpana melihat ia berdiri sendiri dengan kaki gemetar, mungkin kakinya belum kuat. Ia menangis lalu jatuh terduduk. Aku hanya tersenyum seraya berkata, “Bagus, Nak. Ayo teruskan!”. Dua hari kemudian, Farraas mulai menantang dirinya untuk menggerakkan kakinya selangkah dengan tangan berpegangan di sofa. Satu langkah masih gemetar, ia menangis, namun sekali lagi aku katakan, “Ba...

Guru Berbaris

Oleh : Pida Siswanti Saat itu, Nai si 4 tahun sedang bermain bersama Tata si 3 tahun, seorang anak tetangga. Mereka bermain buku yang bisa buka tutup bercerita tentang keluarga kelinci dan kegiatannya di sekolah kelinci. Di dalam buku itu banyak benda-benda yang sering dijumpai disekolah berikut jumlahnya. Mereka asyik bertanya satu sama lain yang jawabannya adalah hitungan satu dua dan seterusnya... Tata bertanya, "Teman di sekolah kamu berapa?" Nai menjawab," Ada delapaaaannnn..." Keduanya tepuk tangan. Tata bertanya lagi, "Kalau bu guru di sekolah kamu ada berapa?" Nai menjawab," Banyaaakkk..." Tata belum puas dengan jawaban Nai,"Banyaknya berapa?" Nai menjawab, "Banyak deh....Nai ngga bisa hitung abisnya bu gurunya ngga mau baris!" Depok, 27 Oktober 2010.

Anakku Bertanya Tentang Amal

Selama ini, aku cenderung sangat berhati-hati jika berbicara tentang hal-hal yang tak kasat mata dengan Nailah, anak perempuanku yang baru berusia 4.5 tahun. Misalnya tentang Allah, surga, neraka, alam kubur, kematian dan lain sebagainya. Entahlah, aku merasa seperti terlalu pagi menerangkan hal ini kepada anak yang baru lahir kemarin. Seolah menceritakan kematian pada sebuah kelahiran. Serupa saat kita baru saja menginjakkan kaki  di rumah saudara jauh sudah ditanya "Kapan pulang?". Orang baru datang sudah ditanya pulang. Meski mungkin maksudnya supaya dia bisa lebih mudah mengatur acaranya. Tapi kok rasanya membuat kita sedikit tidak nyaman. Seperti itulah. Namun jika saatnya tiba, jika pertanyaan itu keluar langsung dari mulut mungil mereka, apa iya kita tidak menjawab. Bukankah jika anak sudah bertanya maka sejatinya ia siapa belajar dan berpikir. Seperti hari itu, suara merdu Opick mengusik keasyikan Nailah bermain boneka dinosaurus warna pink kesayangannya. "...