Langsung ke konten utama

Tiga Langkah Pertamaku

(Juara 2 lomba menulis "Capture Your Gain Moment" yang di selenggarakan oleh Majalah Parents Guide, bulan Desember 2010)

Menjelang usia sembilan bulan anakku, Farraas. Aku menjadi full time mom.  Jika dulu pengasuhnya sangat hati-hati menjaga karena tentu saja takut aku marahi kalau terjadi apa-apa. Aku cenderung membiarkan dan tidak menahannya menjelajah seisi rumah. Aku hanya mengamati benda-benda disekitarnya kalau-kalau bisa membahayakannya. Selebihnya,kubiarkan ia menantang dirinya sendiri, merangkak, memegang ini itu, menjangkau benda yang lebih tinggi, lalu mulai berdiri. Awalnya aku terpana melihat ia berdiri sendiri dengan kaki gemetar, mungkin kakinya belum kuat. Ia menangis lalu jatuh terduduk. Aku hanya tersenyum seraya berkata, “Bagus, Nak. Ayo teruskan!”.

Dua hari kemudian, Farraas mulai menantang dirinya untuk menggerakkan kakinya selangkah dengan tangan berpegangan di sofa. Satu langkah masih gemetar, ia menangis, namun sekali lagi aku katakan, “Bagus, Nak. Ayo Teruskan!”. Ia pun mencoba melangkah lagi, satu dua tiga.

Hingga sehari menjelang ulang tahun pertamanya, Farraas masih takut melepaskan pegangan tangannya dari sofa atau almari atau apapun yang bisa dipegangnya kala berjalan. Aku juga tak memaksa dengan memancingnya berjalan ke arahku misalnya. Entahlah, feelingku mengatakan aku sudah memberikan suasana kondusif di rumah untuknya berani melepaskan tangan dan berjalan sendiri. Ia akan berjalan saat ia tahu ia mampu dan berani.

Tepat pagi hari di hari ulang tahun pertamanya, ia memberiku sebuah hadiah yang takkan aku lupakan. Saat itu ia berpegangan pada almari setelah selesai mandi dan berpakaian. Aku tengah mendandani kakaknya. Tiba-tiba, tanpa kuduga, ia melepaskan pegangannya dari almari, lalu berjalan ke arahku dengan sangat santai dan mantap sambil tersenyum. Satu dua tiga, tiga langkah pertamanya dan ia kelihatan sangat yakin. Lalu berdiri diam, tanpa jatuh dan tetap tersenyum, lalu berjalan lagi tiga langkah dan sampailah tangannya memegang bahuku. Ya Tuhan, indah sekali saat itu. Tiga langkah pertama yang sangat berani di hari ulang tahun pertamanya. Takkan terlupakan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Guru Berbaris

Oleh : Pida Siswanti Saat itu, Nai si 4 tahun sedang bermain bersama Tata si 3 tahun, seorang anak tetangga. Mereka bermain buku yang bisa buka tutup bercerita tentang keluarga kelinci dan kegiatannya di sekolah kelinci. Di dalam buku itu banyak benda-benda yang sering dijumpai disekolah berikut jumlahnya. Mereka asyik bertanya satu sama lain yang jawabannya adalah hitungan satu dua dan seterusnya... Tata bertanya, "Teman di sekolah kamu berapa?" Nai menjawab," Ada delapaaaannnn..." Keduanya tepuk tangan. Tata bertanya lagi, "Kalau bu guru di sekolah kamu ada berapa?" Nai menjawab," Banyaaakkk..." Tata belum puas dengan jawaban Nai,"Banyaknya berapa?" Nai menjawab, "Banyak deh....Nai ngga bisa hitung abisnya bu gurunya ngga mau baris!" Depok, 27 Oktober 2010.

Resep Rahasia

Terdengar suara mobil memasuki garasi disusul bunyi klakson tiga kali. Sisi bergegas membuka pintu.  Itu Rayyan, suaminya. “Ugh…aku lapar sekali, Si” ungkap Rayyan seraya masuk ke dalam rumah. Ia mengelus-elus perut. “Makan malam sudah tersedia di meja, Ray. Tak perlu khawatir,” sahut Sisi membuntuti suaminya. Rayyan meletakkan tas kerjanya di kamar, lalu berganti pakaian. Ketika ia datang ke meja makan, Sisi sudah menunggunya di sana. “Pepes Ikan lagi?” komentar Rayyan spontan setelah melihat menu yang terhidang di meja, “Dan tumis lagi…tumis lagi…” tambahnya, tampak tak berselera makan. Senyum Sisi langsung menghilang. “Tolong buatkan mie instan sih, Si” pinta Rayyan kemudian. Ia langsung beranjak ke ruang tengah dan menyalakan televisi, tak memperhatikan perubahan raut wajah istrinya. Tanpa banyak bicara, Sisi beranjak ke dapur memenuhi permintaan suaminya. Sudah lima tahun usia perkawinan mereka, namun pujian Rayyan di meja makan sepertinya ...