Sekali lagi, sekali lagi kau menjadi bunga tidurku Bukankah pernah kukatakan padamu, aku tak ingin lagi merajut hari bersamamu? Karena aku menyerahkan diriku seutuhnya, sedangkan kau hanya mengirimkan bayangan dirimu saja Ratusan mil, puluhan tahun, bahkan dua lautan menjadi jarak antara kita Kukira, bahkan hatiku sudah melupakanmu Namun, lagi-lagi, oh lagi-lagi, tanpa permisi kau menyeruak, menghiasi tiap tidur malamku Bukankah sudah ada dia disisimu? Gadis ayu yang wajahnya benar-benar mirip denganmu! Itu pertanda kalian berdua memang berjodoh, bukan? Lantas, mengapa pula aku masih duduk manis di sini Mengenang tiap detik masa lalu kita Membaca tiap kata dalam guratan pena surat-suratmu Mereka-reka perjumpaan manis kita yang tak pernah nyata Aku memang pernah mengharapkanmu, amat sangat Tiap kisah yang kita bagi bersama, bertahun-tahun Menyemai bunga-bunga indah semerbak dalam hati perempuanku Mengikat jiwa laksana rampai dalam keranjang cinta Hanya ada kau dalam ha...
Cahaya-Nya seperti pelita berselubung kaca dalam ceruk jiwa, yang terisi minyak termulia dari pohon yang tumbuh tidak di timur dan tidak di barat, yang bercahaya laksana mutiara meski api belum menyentuhnya.