Selama ini, aku cenderung sangat berhati-hati jika berbicara tentang hal-hal yang tak kasat mata dengan Nailah, anak perempuanku yang baru berusia 4.5 tahun. Misalnya tentang Allah, surga, neraka, alam kubur, kematian dan lain sebagainya. Entahlah, aku merasa seperti terlalu pagi menerangkan hal ini kepada anak yang baru lahir kemarin. Seolah menceritakan kematian pada sebuah kelahiran. Serupa saat kita baru saja menginjakkan kaki di rumah saudara jauh sudah ditanya "Kapan pulang?". Orang baru datang sudah ditanya pulang. Meski mungkin maksudnya supaya dia bisa lebih mudah mengatur acaranya. Tapi kok rasanya membuat kita sedikit tidak nyaman. Seperti itulah. Namun jika saatnya tiba, jika pertanyaan itu keluar langsung dari mulut mungil mereka, apa iya kita tidak menjawab. Bukankah jika anak sudah bertanya maka sejatinya ia siapa belajar dan berpikir. Seperti hari itu, suara merdu Opick mengusik keasyikan Nailah bermain boneka dinosaurus warna pink kesayangannya. "...
Cahaya-Nya seperti pelita berselubung kaca dalam ceruk jiwa, yang terisi minyak termulia dari pohon yang tumbuh tidak di timur dan tidak di barat, yang bercahaya laksana mutiara meski api belum menyentuhnya.