Langsung ke konten utama

Dua Sahabat

Oleh : Pida Siswanti

Siang itu, Yanu bertemu dengan sahabat lamanya Sita di sebuah kedai makanan. Setelah memesan makanan dan minuman yang mereka inginkan, mereka memilih duduk di kursi paling pinggir di dekat jendela. Dengan demikian, mereka bisa melihat dari dekat kolam ikan yang dipenuhi dengan ikan Nila dan ikan Mas.

"Kudengar sekarang kau sudah jadi kepala sekolah negeri, Sit?" Yanu memulai pembicaraan.

Sita tersenyum, "Sekolah negeri di pinggiran, Yan. Bukan sekolah favorit yang masuk hitungan orang tua murid"

"Dengan kau sebagai kepala sekolahnya, aku yakin sekolahmu segera menjadi sekolah favorit"

"Kau bisa saja. Seandainya aku berlebih harta, rasanya aku ingin menyumbang dana ke sekolahku sendiri"

"Lho, kok masih pusing soal dana. Sekolah negeri kan didanai negara?"

Sita menggeleng-gelengkan kepala," Yanu...Yanu...kau seperti tidak tahu saja"

"Tahu apa?"

"Dana yang kami terima tak seberapa. Jumlahnya tak seperti yang diberitakan. Kena potong di jalan"

"Maksudmu di korupsi?"

Sita menjentikkan jarinya, "Itu dia"

Pesanan makanan dan minuman datang.

Sita menyeruput milo hangat kesukaannya. Yanu segera membuka nasi timbel dan mulai menyuapkan ke mulutnya.

"Kau tahu, Yan?" Sita pun mulai mencicipi ikan bakar pesanannya ,"Aku bahkan pernah dipanggil pejabat yang punya tanda tangan supaya dana bantuan dari pemerintah turun. Kau tahu dia memanggilku untuk apa?"

"Untuk apa? Bukankah tinggal dia tanda tangan saja dan langsung dananya masuk ke rekening sekolahmu?"

"I wish, Yan. We wish....sayangnya ngga begitu. Ia memanggilku untuk bertanya padaku berapa bagian yang ia dapatkan dari dana itu"

Yanu menghentikan makannya,"Yang bener, Sit?"

"Dan itu ia lakukan meniru atasan-atasannya. Katanya yang ia terimapun sudah tidak sejumlah semestinya karena sudah dipotong sama bos-bosnya dia yang jabatannya lebih tinggi. Hanya tiga puluh persennya yang benar-benar kami terima, Yan! Bisa kau bayangkan? Hanya tiga puluh persen. Tujuh puluh persennya masuk ke kantong para pejabat-pejabat itu" Sita kelihatan sangat gusar.

"Seperti makan api neraka" gumam Yanu pelan.

"Itu kalau mereka sadar, Yan. Nyatanya yang sadar malah keluar. Ngga tahan dengan sistem seperti itu"

"Sampai kapan ya, Sit?" Yanu kehilangan selera makannya. Nasi timbel dan ayam bakar yang masih setengah itu dia sisihkan, " Mendengar berita seperti itu selalu membuat perutku mulas. Sampai kapan negara kita sembuh dari sakit korupsi seperti ini, ya?"

"Sampai muncul generasi yang punya karakter dan harga diri, yang meyakini bahwa mengambil sesuatu yang bukan haknya adalah dosa. Dan itu harus ada dalam aliran darah mereka, sehingga sadar maupun tak sadar, dalam lingkungan seperti apapun, keyakinan itu tak akan berubah" Ungkap Sita mantap.

Yanu tersenyum, "Apa anak muridmu ada yang seperti itu, Sit?"

Sita mengembalikan nasi timbel dan ayam bakar yang tadi sisihkan Yanu ke hadapan sahabatnya itu lagi, "Habiskan, Yan. Syukuri nikmat Tuhanmu siang ini. Banyak orang tak bisa makan di luar sana" Ujar Sita arif.

"Bisa aja kau, Sit" Yanu terkekeh, tapi ia menuruti nasehat sahabatnya itu.

"Sulit mengharapkan sekolah bisa menanamkan karakter dan harga diri seperti itu, Yan. Sekolah itu kan cuma beberapa jam saja, selebihnya di rumah. Jadi semuanya tergantung pada orangtua, apa mereka menanamkan hal itu di rumah kepada anak-anaknya, lalu apakah mereka mencari sekolah yang visinya sama dengan harapan mereka itu"

"Kita dong!"

"Bukan kita, kau Yan. Anakmu sudah berapa sekarang? Aku masih belum bertemu jodoh nih"

"Anakku sudah tiga, Sit...hahahahahaha" Yanu terkekeh-kekeh.

Sita tertawa sambil menggeleng-gelengkan kepala, "Jadi kalau kau memang tak mau perutmu mules terus tiap kali mendengar berita, sebaiknya anakmu kau didik supaya karakter dan harga diri seperti itu mengalir dalam darah mereka sejak dini. Darimu tiga orang, mudah-mudahan dari teman kita yang lain lebih banyak lagi"

"Maksudmu lebih banyak anaknya?" Sahut Yanu bergurau.

Ganti Sita yang terkekeh-kekeh.

"Ya, tak ada salahnya berharap kan, Yan. Katanya kan kalau kita melihat kemungkaran, maka tegurlah dengan tanganmu, kalau tidak dengan perkataanmu, kalau tidak ya dengan hatimu walaupun itu selemah-lemahnya iman" Sambung Sita serius.

"Aku heran kok orang baik sepertimu belum ketemu jodoh, Sit? Mungkin kau yang terlalu sibuk bekerja"

"Jodoh kan di tangan Tuhan, Yan"

"Kalau tak kaucari ya lama lah ketemunya, Sit!"

Sita tertawa lagi. Ia melihat jam tangannya, "Sudah jam dua, Yan. Aku harus pergi. Aku harus bertemu dengan pejabat yang memotong dana bantuan sekolahku itu lagi"

"Ada bantuan lain?"

"Entahlah. Kemarin dia telepon ke sekolah memintaku datang ke kantornya"

"Mudah-mudahan kau tidak berjodoh dengannya ya, Sit" Gurau Yanu lagi.

"Aduh...jangan dong. Sulit buatku mengalirkan karakter dan harga diri yang kubilang tadi ke dalam darah anak-anakku kelak kalau tercampur dengan makanan dari harta yang bukan hak, Yan"

"Iya lah..."Yanu berdiri mengantarkan kepergian sahabatnya itu,"Sampai ketemu lagi ya, Sit"

"Dah, Yanu. Hati-hati di jalan ya" Sita keluar dari kedai itu dan menaiki motornya.

Yanu melambaikan tangannya ke arah pelayan kedai. Setelah membayar tagihan, ia pun bergegas keluar kedai. Saatnya menjemput si bungsu dari sekolahnya.

Depok, 21 Oktober 2010

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Proses (Kreatif) Dibalik Buku Anak : Mengenal Tanda Kebesaran Allah SWT

Alhamdulillahi Robbil 'Alamiin Tahun 2015 kemarin ditutup dengan terbitnya buku solo perdana saya. Buku anak berjudul "Mengenal Tanda-Tanda Kebesaran Allah SWT", diterbitkan oleh Al-Kautsar Kids (Pustaka Alkautsar Group). Buku setebal 152 halaman ini telah menempuh perjalanan yang cukup panjang sejak idenya muncul hingga terbit.  Berawal dari perjalanan saya, suami, dan dua anak saya naik motor bolak-balik dari rumah ke masjid setiap waktu sholat tiba.  Saat maghrib, isya dan subuh, saya selalu memandangi langit yang gelap. Di antara kerlip bintang di sana, saya melihat bulan dalam bentuk yang selalu berbeda. Kadang sabit tipiiis serupa alis, kadang cembung gendut lucu, kadang purnama bulat sempurna dengan cahaya berpendar-pendar, indah sekali.  Lalu timbullah tanya dalam hati, dalam Al-Qur'an Allah SWT berfirman bahwa tidaklah Dia menciptakan segala sesuatu di alam semesta ini dengan sia-sia. Tapi mengapa rasa di hati saya terhadap bulan tak lebih hanya hi...

Tiga Langkah Pertamaku

(Juara 2 lomba menulis " Capture Your Gain Moment " yang di selenggarakan oleh Majalah Parents Guide, bulan Desember 2010) Menjelang usia sembilan bulan anakku, Farraas. Aku menjadi full time mom.  Jika dulu pengasuhnya sangat hati-hati menjaga karena tentu saja takut aku marahi kalau terjadi apa-apa. Aku cenderung membiarkan dan tidak menahannya menjelajah seisi rumah. Aku hanya mengamati benda-benda disekitarnya kalau-kalau bisa membahayakannya. Selebihnya,kubiarkan ia menantang dirinya sendiri, merangkak, memegang ini itu, menjangkau benda yang lebih tinggi, lalu mulai berdiri. Awalnya aku terpana melihat ia berdiri sendiri dengan kaki gemetar, mungkin kakinya belum kuat. Ia menangis lalu jatuh terduduk. Aku hanya tersenyum seraya berkata, “Bagus, Nak. Ayo teruskan!”. Dua hari kemudian, Farraas mulai menantang dirinya untuk menggerakkan kakinya selangkah dengan tangan berpegangan di sofa. Satu langkah masih gemetar, ia menangis, namun sekali lagi aku katakan, “Ba...

Guru Berbaris

Oleh : Pida Siswanti Saat itu, Nai si 4 tahun sedang bermain bersama Tata si 3 tahun, seorang anak tetangga. Mereka bermain buku yang bisa buka tutup bercerita tentang keluarga kelinci dan kegiatannya di sekolah kelinci. Di dalam buku itu banyak benda-benda yang sering dijumpai disekolah berikut jumlahnya. Mereka asyik bertanya satu sama lain yang jawabannya adalah hitungan satu dua dan seterusnya... Tata bertanya, "Teman di sekolah kamu berapa?" Nai menjawab," Ada delapaaaannnn..." Keduanya tepuk tangan. Tata bertanya lagi, "Kalau bu guru di sekolah kamu ada berapa?" Nai menjawab," Banyaaakkk..." Tata belum puas dengan jawaban Nai,"Banyaknya berapa?" Nai menjawab, "Banyak deh....Nai ngga bisa hitung abisnya bu gurunya ngga mau baris!" Depok, 27 Oktober 2010.