Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2012

Karunia Terbesar dan Terindah

"Alangkah bahagianya orang itu, ia memiliki rumah besar, mobil bagus, anak-anak yang pintar dan sukses, jabatan tinggi dan status sosial yang diperhitungkan." Dulu, saya pikir karunia terbesar dan terindah dari Tuhan adalah lima hal tersebut. Pagi ini saya membaca Qur'an dan mendapati bahwa ternyata bukan itu, karunia terbesar dan terindah yang sejati dari Tuhan Semesta Alam ternyata adalah memiliki hati yang condong kepada kebaikan . Hati seperti itu ternyata tidak diberikan kepada semua orang, melainkan hanya kepada orang-orang yang Ia kehendaki. "Sesungguhnya, (Al-Qur'an) itu benar-benar suatu peringatan, maka siapapun yang menghendaki, tentu ia akan mengambil pelajaran darinya, dan mereka tidak akan mengambil pelajaran darinya, kecuali jika Allah menghendaki" (Al-Mudatsir, 54-56) "Sungguh, (ayat-ayat Al-Qur'an) ini adalah peringatan, maka siapapun yang menghendaki, tentu ia akan mengambil jalan menuju Tuhannya, tapi kamu tidak akan...

Terjerat Riba

Tiba-tiba terlintas dalam benak saya mengenai riba. Riba, suatu kata yang saya hafal betul sejak masa sekolah dulu. Bahwa Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Riba yang menjadi contoh di soal-soal ujian dulu selalu mengarah pada rentenir - orang yang memberi pinjaman uang kepada orang lain dengan syarat saat dikembalikan harus dengan tambahan sekian persen. Tapi ya itu, hanya hafal di kepala sebagai suatu soal ujian sekolah, tidak lebih. Lalu contoh riba yang saya kenal bukan lagi hanya rentenir, tapi termasuk bank, bank konvensional maksudnya, karena waktu itu belum ada bank syariah. Lalu saya hidup dalam suatu pemahaman bahwa semua kebutuhan hidup ini, rumah, motor, mobil, biaya renovasi, adalah wajar didanai dengan dana kredit, entah kredit di bank atau di leasing company . Semua orang melakukannya. Maka saya pun melakukannya. Saya terhipnotis dengan pendapat yang mengatakan "Jaman sekarang mah semua serba mahal, ngga bisa didapat kalau ngga kredit" at...

Meneliti Sumber Berita

Joseph Gobel, juru propaganda Nazi Jerman dan Hitler pernah berkata : "jika kita mengulang-ulang kebohongan sesering mungkin, maka lama kelamaan rakyat pasti akan mempercayai kebohongan itu sebagai kebenaran." Untuk umat Islam, bersikap hati-hati menerima suatu berita sudah diajarkan Al-Qur'an, salah satunya dalam Surat Hujurat (49) ayat 6 : "Hai orang-orang yang beriman, jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan, yang akhirnya membuatmu menyesal." Maka kapan saja suatu berita sampai kepada kita dari orang-orang yang kita ragukan keimanannya kepada Allah Tuhan Semesta Alam dan Hari Akhir, baik berita itu melalui media televisi, koran, majalah, sms hingga jejaring sosial, sebaiknya jangan lekas percaya. Telitilah dulu kebenarannya melalui sumber yang lebih kita percaya. Jika kita memiliki keterbatasan akses dalam meneliti kebenarannya, ...